
6 Cara Importir Indonesia Bisa Hemat Biaya di Tengah Kenaikan BBM dan Freight Rate Global
Bagi importir, kondisi saat ini terasa seperti tekanan dari berbagai arah sekaligus. Freight rate internasional naik akibat gangguan jalur pelayaran global. Harga BBM nonsubsidi baru saja disesuaikan naik per Mei 2026. Dan pelemahan rupiah membuat semua komponen impor yang dihitung dalam dolar otomatis jadi lebih mahal.
Tapi bisnis harus tetap berjalan. Pasokan barang harus tetap masuk. Dan margin harus tetap dijaga.
Berikut enam cara konkret yang bisa dilakukan importir untuk menekan biaya di tengah kondisi ini.
1. Validasi Ulang Kode HS Produk Impor Anda
Kode HS bukan sekadar kode administrasi — ini adalah penentu berapa besar bea masuk yang harus Anda bayar. Dan dalam banyak kasus, importir menggunakan kode HS yang tidak optimal karena belum pernah direview sejak pertama kali digunakan.
Perubahan regulasi BTKI, penerbitan PMK baru tentang tarif, atau perubahan spesifikasi produk yang Anda impor bisa berarti kode HS yang dulu digunakan sudah tidak lagi yang paling menguntungkan. Validasi ulang kode HS bisa menghasilkan penghematan bea masuk yang cukup signifikan — terutama ketika komponen biaya lain sedang naik.
Ini adalah bagian dari layanan Indonesia Import Risk Control Service JLOG yang dirancang khusus untuk membantu importir mengidentifikasi dan meminimalkan risiko dan biaya sejak tahap perencanaan.
2. Manfaatkan Skema Tarif Preferensial dari Perjanjian Dagang
Indonesia memiliki berbagai perjanjian dagang yang memberikan tarif bea masuk yang lebih rendah untuk produk dari negara-negara mitra — ASEAN FTA, ACFTA dengan China, IJEPA dengan Jepang, CEPA dengan Australia, dan lainnya.
Bea masuk untuk produk yang sama bisa berbeda drastis tergantung negara asal dan skema perjanjian dagang yang digunakan. Importir yang memanfaatkan Certificate of Origin yang tepat untuk skema yang paling menguntungkan bisa menghemat bea masuk yang cukup besar dibandingkan yang menggunakan tarif MFN (Most Favored Nation) biasa.
Jika selama ini Anda belum secara aktif mengeksplorasi opsi ini, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai.
3. Hitung Ulang Total Landed Cost Sebelum Melakukan Order
Ini terdengar sederhana, tapi banyak importir yang membuat keputusan pembelian berdasarkan harga supplier tanpa memperhitungkan seluruh komponen biaya impor secara akurat.
Total landed cost mencakup: harga barang, freight internasional, asuransi kargo, bea masuk, PPN impor, PPh impor, biaya handling di pelabuhan, biaya trucking ke gudang, dan biaya dokumen. Semua komponen ini harus dihitung sebelum Anda berkomitmen pada harga jual ke pelanggan Anda.
Di kondisi saat ini, beberapa komponen ini sedang bergerak naik secara bersamaan. Landed cost yang tidak dihitung ulang bisa membuat Anda menjual dengan harga yang sebenarnya sudah merugi.
4. Pertimbangkan Konsolidasi Order untuk Efisiensi FCL
Jika selama ini Anda melakukan impor dalam frekuensi tinggi dengan volume kecil per pengiriman, pertimbangkan untuk mengonsolidasikan order menjadi pengiriman yang lebih jarang tapi dengan volume lebih besar per pengiriman.
Biaya per unit dalam pengiriman FCL (Full Container Load) umumnya lebih rendah dibandingkan LCL (Less than Container Load) ketika volume sudah memadai. Di tengah kenaikan freight rate, selisih biaya antara dua opsi ini bisa menjadi lebih signifikan.
Tentu saja, ini perlu diimbangi dengan pertimbangan modal kerja dan kapasitas penyimpanan. Tapi jika keduanya memungkinkan, konsolidasi order bisa menjadi salah satu cara paling efektif untuk menekan biaya per unit.
5. Siapkan Perizinan Lebih Awal untuk Menghindari Biaya Demurrage
Salah satu komponen biaya yang paling bisa dihindari tapi sering diabaikan adalah biaya demurrage — biaya yang dikenakan ketika kontainer tidak segera dikeluarkan dari pelabuhan setelah batas waktu yang ditentukan.
Keterlambatan yang paling sering terjadi bukan karena masalah pengiriman, tapi karena dokumen atau perizinan yang belum siap ketika kapal tiba. Barang tertahan sehari di pelabuhan bisa menghasilkan biaya yang signifikan — dan di kondisi saat ini, tidak ada ruang untuk biaya yang seharusnya bisa dicegah.
Pastikan semua perizinan yang dibutuhkan — BPOM, SNI, Persetujuan Impor dari Kemendag — sudah diurus jauh sebelum kapal berangkat dari negara asal. Layanan Permit Check dari JLOG membantu Anda mengidentifikasi semua persyaratan perizinan sejak tahap awal perencanaan.
6. Pilih Moda dan Rute Pengiriman yang Paling Efisien untuk Kondisi Saat Ini
Rute dan moda pengiriman yang paling efisien bisa berubah seiring kondisi pasar. Rute yang biasanya paling murah bisa berubah menjadi yang paling mahal ketika ada gangguan di jalur pelayaran tertentu — dan sebaliknya.
Di kondisi saat ini, ada baiknya meminta forwarder Anda untuk melakukan analisis komparatif antar rute dan moda sebelum memutuskan opsi pengiriman berikutnya. Kadang, kombinasi sea freight untuk pengiriman utama ditambah air freight untuk bagian yang time-sensitive lebih efisien secara keseluruhan dibandingkan satu moda saja.
Konsultasikan kebutuhan impor Anda dengan tim JLOG dan dapatkan estimasi biaya yang akurat berdasarkan kondisi pasar terkini.

